Mini Research

SELAT MURIA, LAUT YANG HILANG DI JALUR PANTURA


Selat Muria merupakan sebuah fenomena terbentuknya lautan yang memisahkan antara wilayah perairan dan daratan yang berwujud relatif sempit. Pada ribuan tahun yang lalu terdapat Pulau Muria yang dikelilingi oleh tiga gunung yakni; Gunung Muria, Gunung Pati Ayam, dan Gunung Genuk. Gunung tersebut terbentuk pada masa purba (2 juta tahun silam) dan terus aktif setidaknya hingga abad ke 16 (Denys Lombard, 1996).

Selat Muria memisahkan wilayah Jepara dengan daratan Jawa sampai abad ke-17. Buku-buku sejarah yang membahas kesultanan Demak mendeskripsikan keberadaannya. Akibat proses sedimentasi, selat itu tertutup dan menjadi dataran rendah.

 

Di puncak kejayaan kerajaan Medang (Mataram Hindu), selat ini menempati posisi cukup penting seiring diletakkannya pelabuhan utama kerajaan di sini. Tepatnya di ujung barat, yakni di kawasan Bergota (bagian dari kota Semarang) sekarang. Namun pada masa itu pun orang-orang Medang mulai berhadapan dengan tantangan alamiah Selat Muria, berupa sedimentasi yang sangat intensif. Dengan garis pantai pulau Jawa bagian utara bergeser rata-rata 100 meter per tahun, sulit untuk mempertahankan pelabuhan Bergota bagi kapal-kapal berukuran besar. Mundurnya peran pelabuhan Bergota ini disebut-sebut menjadi salah satu faktor yang memaksa Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, di samping faktor-faktor lain. Sedimentasi yang masif pun membuat Selat Muria kian menyempit.

 Pada saat era kerajaan Majapahit Selat Muria masih berperan sebagai poros ekonomi maritim kerajaan, namun lambat laun menyempit sehingga menyerupai sungai besar. Hanya ujung baratnya yang tersisa sehingga membentuk semacam corong (daerah sekitar Demak) sehingga dikenal sebagai daerah Gelagah Wangi dimana tanaman itu khas tanaman pesisir yang beraroma wangi.

Di awal abad ke-16 TU pangeran Jimbun (atau Jin bun) mendirikan pemukiman yang kemudian terus berkembang menjadi sebuah kerajaan Islam pertama di tanah Jawa, kerajaan Demak atau Demak Bintara. Sang pangeran pun menjadi raja pertamanya yang bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah, yang populer dengan sebutan Raden Fatah atau Raden Patah. Sebuah pelabuhan besar pun didirikan di sini, sementara di ujung timur Selat Muria pun telah berdiri pelabuhan Juwana. Maka Selat Muria, meski sempit, kian ramai dihilir mudiki perahu-perahu yang mengangkut aneka barang dan orang. Keramaian ini terus berlangsung meski di kemudian hari kerajaan Demak hancur dan pusat kekuasaan berpindah ke Pajang, untuk kemudian ke Mataram (Islam).

Namun keramaian ini harus purna sekitar seabad setelah Demak sirna. Sedimentasi yang kian massif membuat Selat Muria akhirnya menyerah dan mati. Pada pertengahan abad ke-17 TU selat yang telah menyempit itu sudah terputus, tertutup oleh sedimen di antara Demak dan Pati sekarang. Karenanya pada tahun 1657 TU Tumenggung Pati mengumumkan rencananya untuk menggali kembali sebuah terusan yang menghubungkan Demak dan Pati, sebagai upaya untuk menghidupkan kembali Selat Muria dan tetap menjaga arus lalu lintas perdagangan lewat laut. Upaya ini nampaknya tak berhasil. Selat Muria tetap mati, pun demikian pelabuhan-pelabuhan di sepanjang alurnya termasuk pelabuhan Demak. Peran pelabuhan Demak kemudian diambil-alih oleh pelabuhan Jepara. Bagian Selat Muria lainnya yang masih tersisa pun lama-kelamaan tertutup juga oleh sedimentasi yang masif. Pulau Muria pun kini bersatu dengan daratan utama pulau Jawa sebagai semenanjung Muria.

Bukti Empiris Terbentuknya Sedimentasi

Sedimentasi adalah proses pengendapan material hasil erosi dari tempat tertentu. Bahan yang terendap tersebut diakibatkan dari beberapa jenis dan kondisi, seperti aliran air, angin, maupun hasil letusan gunung api. Kemudian material tersebut bertemu hingga berbentuk yang dinamakan sedimen.

Wilayah Demak, Kudus, Jepara merupakan hasil sedimentasi yang diterima dari beberapa arah. Rangsangan sedimentasi itu tidak lepas dari daerah selatan terdapat Zona Kendeng dan Zona Rembang yang mengalami erosi yang pesat. di Wilayah Utara terdapat Gunung Muria yang dahulu memiliki gradien kemiringan yang ekstrim dan mengalir banyak material sedimen ke selatan (Selat Muria), sedangkan di arah barat terdapat Sungai Tuntang dimana turut andil dalam mempercepat arus sedimentasi bersama Sungai Serang, sungai ini membentuk pasangan delta aktif yang membangun morfologi pesisir Demak.


 Berdasarkan dugaan atas catatan sejarah (Soekmono, 1967; De Graaf & Th. Pigeaud, 1974), garis pantai pesisir utara Jawa Tengah dahulu pada abad ke-8 masih menjorok ke arah Purwodadi, dimana pusat Kerajaan Medang Kamulan berada. Selanjutnya pada abad ke-16 di era keemasan Kesultanan Demak, garis pantai diduga telah bergeser ke kota Demak saat ini. Sehingga, pergerakan majunya garis pantai sejauh 30 km terjadi dalam kurun waktu sekitar 800 tahun, dengan kecepatan sedimentasi rerata 40 m/tahun. Tentu saja ini adalah angka perkiraan kasar.

Bledug Kuwu

Di daerah Grobogan terdapat fenomena alam menarik yang bernama Bledug Kuwu, dimana merupakan bentuk gunung api lumpur (mud  volcano) yang terletak di Desa Kuwu, Kabupaten Grobogan. Dari situs tersebut dijumpai beberapa indikasi laut purba, yaitu: air asin, uap, gas, dan minyak bumi dan bila bergerak ke arah barat terdapat api abadi Mrapen (Indriana, dkk., 2007)

Kawasan wisata alam Bledug Kuwu di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (14/7/2017). Letupan gelembung lumpur di musim kemarau ini rata-rata lebih kecil di banding ketika musim hujan. Namun produksi garam bleng dari hasil pengolahan lumpur sempuran Bledug Kuwu justru mencapai puncaknya. TRIBUN JOGJA/SETYA KRISNA SUMARGA
Petani Garam Bledug Kuwu (Tribun Jogja, 2017)


Bledug Kuwu Masih Menderu, Darinya Warga Membuat Garam

 Kawasan wisata alam Bledug Kuwu, Kabupaten Grobogan pada tahun 2017. Terlihat fenomena tersebut menimbulkan dampak pada meningkatnya produksi garam bleng dari hasil pengolahan lumpur itu sendiri (Tribun Jogja, 2017). Serat Centhini yang ditulis dalam koordinasi Paku Buwono V pada tahun 1814 menyebut bahwa lokasi Medang Kamulan ada di sebelah timurlaut Bledug Kesanga. Bledug Kesanga adalah tempat sang ular raksasa Jaka Linglung berhenti keluar masuk bumi membuat lubang. Demikian dijelaskan Ranggasutrasna (1991). Bledug Kesanga adalah gununglumpur terusan -sejalur dengan Bledug Kuwu di area Grobogan, Purwodadi (Satyana, 2016). 

Situs Pati Ayam, Kudus

Pati Ayam merupakan bagian dari Gunung Muria. Luasnya mencapai 2.902,2 hektar, yang tersebar di wilayah Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus ( 1.573,5 hektar) dan di wilayah Kecamatan Margorejo, Gembong, Tlogowungu Kabupaten Pati, 1.328,7 hektar. Secara morfologi menurut Yahdi Zaim dari Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Perbukitan Pati Ayam merupakan kubah (dome) dengan puncak ketinggian 350 meter di atas permukaan laut.  Batuannya berumur sekitar 1 juta hingga 700.000 tahun atau pada masa plestosen yang mengandung fosil vertebrata dan manusia purba (homo erectus). Jenis-jenis fosil binatang laut purba yang ditemukan antara lain adalah dua buah fosil kerang raksasa yang diperkirakan berumur satu juta hingga 700.000 tahun. Fosil ini masih cukup lengkap, mulus, berukuran lebar sekitar 30 cm, sehingga dengan mudah dikenali sebagai bentuk kerang laut, namun ukurannya antara tujuh hingga sepuluh kali lipat dengan kerang yang ada sekarang pada umumnya. 

 Belajar Sejarah dari Fosil Berusia 1,5 Juta Tahun di Museum Purbakala  Patiayam Kudus - Tribun Jateng
Di Situs Gunung Pati Ayam sering dijumpai benda-benda pra-sejarah yang berumur jutaan tahun, salah satunya adalah kerang laut dan fosil hewan.

 

Air Asin Wonocolo, Kabupaten Kudus (Dikbud, 2019)