Meningkatnya laju pertumbuhan penduduk, arus urbanisasi, turut memberikan pengaruh terhadap pemanfaatan sumber daya alam, peningkatan polusi pula akan membawa dampak negatif ke makhluk hidup baik manusia, alam, maupun hewan. Tentu hal tersebut akan membuat bumi semakin jenuh. Sama halnya pemanfaatan listrik yang kini menjadi kebutuhan pokok kehidupan modern. Menurut EPA, 2014 memaparkan bahwa produksi listrik menghasilkan setidaknya gas metan, gas fluorin, dan CO2. Dimana terjadi peningkatan gas karbondioksida sebanyak 90% sejak tahun 1970 di langit bumi.
Peneliti berlomba-lomba mewujudkan teknologi yang ramah lingkungan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, salah satunya pembuatan panel surya yang kini sering kita jumpai di jalan raya ibukota Indonesia. Panel surya fotovoltaik adalah jenis tata surya yang umum. Pembangunan PV
Sistem termasuk berbagai kelompok sel PV (photovoltaic system), baterai, pengisi daya atau pengontrol untuk stand-alone sistem, inverter untuk sistem yang terhubung ke jaringan utilitas dengan arus bolak-balik, kabel, dan perangkat keras. Ini bisa menjadi sistem yang berdiri sendiri atau diintegrasikan ke dalam desain bangunan(gosolarcalifornia.gov). Panel surya mendapatkan listrik dari matahari melalui proses fisik yang disebut efek fotoelektrik. Ini adalah emisi atau ejeksi elektron dari permukaan logam sebagai respons untuk menerangi. Masa pakai panel surya sekitar 20 tahun, dan modul PV dasar dapat digunakan selama lebih dari 30 tahun.
Salah satu lampu penerangan jalan umum (PJU) tenaga surya di Jakarta
Terlepas dari label keiritan panel surya apabila diterapkan pada pengganti sumber daya konvensional menuju energi yang terbarukan terdapat beberapa dampak dari aspek lingkungan, dan kesehatan. Ditinjau pada aspek lingkungan panel surya ini masih sering menjadi perdebatan hal tersebut diakibatkan bahan baku yang dipakai berasal dari perut bumi yang notabene sumber daya tersebut sewaktu-waktu akan habis. Bahan tersebut yakni Kromium dan Kadmium dimana bahan tersebut merupakan material yang terbatas. Umumnya pabrik pembuat panel surya juga membutuhkan lahan yang sangat luas, dan sumber daya air yang melimpah. Tercatat menurut temuan dari organisasi ucsusa, yang dikutip dari Wang (2019) bahwa satu pabrik pembuat solar panel membutuhkan minimal 600-650 galon air untuk menggerakkan mesinnya. Secara mengejutkan, menurut temuan Jemin dan Mark pada tahun 2017, limbah yang dihasilkan oleh panel surya juga dapat berdampak buruk 300 kali lebih berbahaya dibandingkan dengan tenaga nuklir.
Daftar Pustaka
M.M. Aman, dkk. 2015. A review of Safety, Health, and Environmental (SHE) issues of solar energy system. Renewable and Sustainable Energy Reviews.
Wang, Lujia. 2019. The Negative Impacts of Solar Power. The University of Arizona Press, America.
Tsoutsos, dkk. 2005. Environmental impacts from the solar energy technologies. enpol.


